INDOMEDIA24|NEWS & LIFESTYLE
.
Showing posts with label Survei. Show all posts
Survei
Kenapa Mayoritas Lembaga Survei Memenangkan Jokowi? Ini Alasannya!
LEMBAGA SURVEY PENDUKUNG JOKOWI TIDAK NETRAL, TIM SUKSES JOKOWI-JK BERHASIL MENGGALANG DAN MEMBELI LEMBAGA SURVEY. INI BUKTINYA :
1. SMRC
Tokohnya Saiful Mudjani adalah satu lembaga dengan Burhanuddin Muhtadi di LSI. Saiful Mudjani mengakui bagi2 uang untuk Jokowi di Banten
Bukti:
http://nasional.kompas.com/read/2014/06/11/2016450/Saiful.Mujani.Benarkan.Bagi-bagi.Uang.Usai.Kampanye.untuk.Jokowi
2. INDIKATOR POLITIK
Tokohnya Burhanuddin Muhtadi bersama Saiful Mudjani di LSI. SMRC dan Indikator diperkirakan satu dapur melaksanakan quick count.
Bukti :
http://www.aktual.co/politik/140802burhanuddin-muhtadi-dianggap-terlalu-bersemangat-dukung-jokowi-jk
3. LINGKAR SURVEY INDONESIA (LSI)
Tokohnya Denny JA, ini adalah tim sukses Jokowi.
Bukti:
http://www.antaranews.com/berita/434407/denny-ja-dukung-jokowi-karena-ideologi
4. CSIS
Pendirinya Sofjan Wanandi. Lembaga ini satu group dengan Kompas mendukung Jokowi.
Bukti: �
http://nasional.kompas.com/read/2014/06/26/2137523/Sofjan.Wanandi.Para.Pengusaha.Merapat.untuk.Dukung.Jokowi
5. CYRUS
Lembaga quick count yang tak pernah teruji dalam quick count. Patronnya Hasan Batupahat yg merupakan Tim sukses Jokowi (Koordinator �Komunitas Kopi�).
Bukti:
http://politik.rmol.co/read/2014/06/27/161339/Agus-Gumiwang-Hadiri-Deklarasi-Laskar-Biji-Kopi-Dukung-Jokowi-JK
6. LITBANG KOMPAS
Lembaga survei yg dimiliki Gramedia Grup milik Jacob Oetama pendukung Jokowi-JK yg konsisten kebijakan redaksinya mengangkat pencitraan Jokowi dan mendowngrade citra Prabowo-Hatta lewat isu HAM.
Bukti :
http://visibaru.com/index.php/kolom/1497-bos-kompas-katolik-dan-cukong-wajib-dukung-jokowi.html
7. POLMARK INDONESIA
Milik Eep Saifullah Fatah. Lembaga konsultan politik dan survey yang menjadi konsultan politik Jokowi-JK.
Bukti:
http://www.merdeka.com/politik/eep-saefulloh-mengaku-jadi-konsultan-jokowi-jk-tanpa-bayaran.html
8. Lembaga milik pemerintah seperti LIPI, LKBN Antara, TVRI dan RRI, menurut informasi berhasil digalang oleh Ikrar Nusa Bakti tim sukses Jokowi, arah dan hasil surveynya mengikuti arah dan hasil survey yg dibuat oleh Indikator Politik dan SMRC.
Bukti :
http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita-pemilu/14/06/03/n6kwbl-ikut-kubu-jokowijk-bawaslu-panggil-peneliti-lipi-ikrar-nusa-bakti
9. Sekarang ada Asosiasi Survey Persepi minta lembaga survey yang tidak memenangkan Jokowi untuk diaudit. Ketua Persepi adalah Andrinof Chaniago adalah timses Jokowi.
Bukti:
http://beritajatim.com/nasional/210851/andrinof_chaniago:_tim_sukses_jokowi-jk_merasa_sudah_menang.html
1. SMRC
Tokohnya Saiful Mudjani adalah satu lembaga dengan Burhanuddin Muhtadi di LSI. Saiful Mudjani mengakui bagi2 uang untuk Jokowi di Banten
Bukti:
http://nasional.kompas.com/read/2014/06/11/2016450/Saiful.Mujani.Benarkan.Bagi-bagi.Uang.Usai.Kampanye.untuk.Jokowi
2. INDIKATOR POLITIK
Tokohnya Burhanuddin Muhtadi bersama Saiful Mudjani di LSI. SMRC dan Indikator diperkirakan satu dapur melaksanakan quick count.
Bukti :
http://www.aktual.co/politik/140802burhanuddin-muhtadi-dianggap-terlalu-bersemangat-dukung-jokowi-jk
3. LINGKAR SURVEY INDONESIA (LSI)
Tokohnya Denny JA, ini adalah tim sukses Jokowi.
Bukti:
http://www.antaranews.com/berita/434407/denny-ja-dukung-jokowi-karena-ideologi
4. CSIS
Pendirinya Sofjan Wanandi. Lembaga ini satu group dengan Kompas mendukung Jokowi.
Bukti: �
http://nasional.kompas.com/read/2014/06/26/2137523/Sofjan.Wanandi.Para.Pengusaha.Merapat.untuk.Dukung.Jokowi
5. CYRUS
Lembaga quick count yang tak pernah teruji dalam quick count. Patronnya Hasan Batupahat yg merupakan Tim sukses Jokowi (Koordinator �Komunitas Kopi�).
Bukti:
http://politik.rmol.co/read/2014/06/27/161339/Agus-Gumiwang-Hadiri-Deklarasi-Laskar-Biji-Kopi-Dukung-Jokowi-JK
6. LITBANG KOMPAS
Lembaga survei yg dimiliki Gramedia Grup milik Jacob Oetama pendukung Jokowi-JK yg konsisten kebijakan redaksinya mengangkat pencitraan Jokowi dan mendowngrade citra Prabowo-Hatta lewat isu HAM.
Bukti :
http://visibaru.com/index.php/kolom/1497-bos-kompas-katolik-dan-cukong-wajib-dukung-jokowi.html
7. POLMARK INDONESIA
Milik Eep Saifullah Fatah. Lembaga konsultan politik dan survey yang menjadi konsultan politik Jokowi-JK.
Bukti:
http://www.merdeka.com/politik/eep-saefulloh-mengaku-jadi-konsultan-jokowi-jk-tanpa-bayaran.html
8. Lembaga milik pemerintah seperti LIPI, LKBN Antara, TVRI dan RRI, menurut informasi berhasil digalang oleh Ikrar Nusa Bakti tim sukses Jokowi, arah dan hasil surveynya mengikuti arah dan hasil survey yg dibuat oleh Indikator Politik dan SMRC.
Bukti :
http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita-pemilu/14/06/03/n6kwbl-ikut-kubu-jokowijk-bawaslu-panggil-peneliti-lipi-ikrar-nusa-bakti
9. Sekarang ada Asosiasi Survey Persepi minta lembaga survey yang tidak memenangkan Jokowi untuk diaudit. Ketua Persepi adalah Andrinof Chaniago adalah timses Jokowi.
Bukti:
http://beritajatim.com/nasional/210851/andrinof_chaniago:_tim_sukses_jokowi-jk_merasa_sudah_menang.html
Pilpres 2014, Survei
Politik Magz -- Saling klaim kemenangan dalam Pilpres 2014 bukan hanya terjadi berdasarkan hitung cepat (quick count), tapi juga berdasarkan Real Count.
Tim Pemenangan Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla Jumat (10/7/2014) melakukan real count yang diselenggarakan di Kantor Dewan Perwakilan Pusat (DPP) Partai NasDem.
Dari hasil real count tersebut, pasangan Jokowi-JK mendapatkan perolehan suara 53,24%, sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapatkan perolehan suara 46,76%. Dengan posisi data yang masuk 54% pada hari Kamis (10/7) pukul 12.00 WIB.
Di pihak lain, pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa juga mengklaim unggul atas Jokowi-Jusuf Kalla (JK) dari hasil real count Pilpres 2014. PKS, salah satu partai pengusung Prabowo-Hatta, telah melakukan real count. Formulir C1 langsung di-scan dan dikirim ke Pusat Tabulasi Nasional PKS
Akumulasi persentase nasional antara pasangan Prabowo-Hatta (No.1) dan Jokowi-Kalla (No.2): No.1 = 52.04% dan No.2 = 47.96%.*
Tim Pemenangan Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla Jumat (10/7/2014) melakukan real count yang diselenggarakan di Kantor Dewan Perwakilan Pusat (DPP) Partai NasDem.
Dari hasil real count tersebut, pasangan Jokowi-JK mendapatkan perolehan suara 53,24%, sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapatkan perolehan suara 46,76%. Dengan posisi data yang masuk 54% pada hari Kamis (10/7) pukul 12.00 WIB.
Di pihak lain, pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa juga mengklaim unggul atas Jokowi-Jusuf Kalla (JK) dari hasil real count Pilpres 2014. PKS, salah satu partai pengusung Prabowo-Hatta, telah melakukan real count. Formulir C1 langsung di-scan dan dikirim ke Pusat Tabulasi Nasional PKS
Akumulasi persentase nasional antara pasangan Prabowo-Hatta (No.1) dan Jokowi-Kalla (No.2): No.1 = 52.04% dan No.2 = 47.96%.*
Survei
Politik Magz -- Usai pencoblosan Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 terjadi perbedaan hasil quick count antar beberapa lembaga survei. Saling klaim kemenangan pun tak terelakkan dari kedua kubu capres.
Yang paling pertama meng-klaim menang adalah kubu Jokowi-JK dengan berdasar data dari hasil quick count SMRC-LSI yang menunjukan Jokowi-JK menang dengan perolehan 52,91% sedang Prabowo-Hatta 47,09%.
Selang tak berapa lama, kubu Prabowo-Hatta juga mendeklarasikan kemenangan berdasar hasil quick count IRC (Indonesia Reseach Centre) dengan data masuk 100% Prabowo-Hatta menang 51,11% sementara Jokowi-JK 48.89%.
Siapa yang paling tepat diantara hasil quick count ini? Tentu nanti akan dibuktikan dari hasil real count KPU yang akan dilakukan 22 Juli 2014.
Namun ada beberapa catatan menarik:
- Berdasar pengalaman dari Pilgub Bali 2013 lalu, yang juga diikuti dua pasangan (PAS dan Pastikerta), hasil quick count dari lembaga survei berbeda. Quick count SMRC hasilnya PAS yang didukung PDIP menang dengan memperoleh 50,31 persen suara, sementara Pastikerta 49,69 persen. Sedang IRC sebaliknya, Pastikerta yang menang dengan memperoleh suara 50,01 persen, sementara PAS meraih 49,99 persen.
(Sumber: http://lipsus.kompas.com/aff2012/read/2013/05/15/15565288/hitung.cepat.smrc.unggulkan.pas.irc.menangkan.pastikerta)
Dan ternyata hasil real count KPU: Pastikerta yang menang dengan perolehan 50,02% sedang PAS meraih suara 49,98 %. Hasil ini hampir persis dengan hasil quick count IRC.
(baca sumbernya: http://www.suarapembaruan.com/home/pasti-kerta-menang-tipis-pilgub-bali/36004)
- Catatan kedua, dalam Pilpres 2014 ini nyata-nyata SMRC (Saiful Mujani Reseach Center) bukan lembaga survei independen, tapi merupakan timsesnya Jokowi-JK. Tentu independensi hasil QC nya juga patut dipertanyakan.
(Baca: Saiful Mujani Benarkan Bagi-bagi Uang Usai Kampanye untuk Jokowihttp://nasional.kompas.com/read/2014/06/11/2016450/Saiful.Mujani.Benarkan.Bagi-bagi.Uang.Usai.Kampanye.untuk.Jokowi)
Itu hanya sekadar catatan kecil sebagaimana dilansir laman pkspiyungan.org untuk melihat perbedaan hasil quick count di Pilpres 2014 yang berbeda antara satu lembaga survei dengan lembaga survei yang lain. Tentu hasil paling valid dan sah adalah hasil real count KPU nanti, dan semua pihak harus menghormati apapun hasilnya.
Yang paling pertama meng-klaim menang adalah kubu Jokowi-JK dengan berdasar data dari hasil quick count SMRC-LSI yang menunjukan Jokowi-JK menang dengan perolehan 52,91% sedang Prabowo-Hatta 47,09%.
Selang tak berapa lama, kubu Prabowo-Hatta juga mendeklarasikan kemenangan berdasar hasil quick count IRC (Indonesia Reseach Centre) dengan data masuk 100% Prabowo-Hatta menang 51,11% sementara Jokowi-JK 48.89%.
Siapa yang paling tepat diantara hasil quick count ini? Tentu nanti akan dibuktikan dari hasil real count KPU yang akan dilakukan 22 Juli 2014.
Namun ada beberapa catatan menarik:
- Berdasar pengalaman dari Pilgub Bali 2013 lalu, yang juga diikuti dua pasangan (PAS dan Pastikerta), hasil quick count dari lembaga survei berbeda. Quick count SMRC hasilnya PAS yang didukung PDIP menang dengan memperoleh 50,31 persen suara, sementara Pastikerta 49,69 persen. Sedang IRC sebaliknya, Pastikerta yang menang dengan memperoleh suara 50,01 persen, sementara PAS meraih 49,99 persen.
(Sumber: http://lipsus.kompas.com/aff2012/read/2013/05/15/15565288/hitung.cepat.smrc.unggulkan.pas.irc.menangkan.pastikerta)
Dan ternyata hasil real count KPU: Pastikerta yang menang dengan perolehan 50,02% sedang PAS meraih suara 49,98 %. Hasil ini hampir persis dengan hasil quick count IRC.
(baca sumbernya: http://www.suarapembaruan.com/home/pasti-kerta-menang-tipis-pilgub-bali/36004)
Dari sini kita bisa melihat mana lembaga survei yang lebih tepat hasil quick countnya. Hitung Cepat (Quick Count) IRC Lebih Akurat Ketimbang SMCR-LSI
- Catatan kedua, dalam Pilpres 2014 ini nyata-nyata SMRC (Saiful Mujani Reseach Center) bukan lembaga survei independen, tapi merupakan timsesnya Jokowi-JK. Tentu independensi hasil QC nya juga patut dipertanyakan.
(Baca: Saiful Mujani Benarkan Bagi-bagi Uang Usai Kampanye untuk Jokowihttp://nasional.kompas.com/read/2014/06/11/2016450/Saiful.Mujani.Benarkan.Bagi-bagi.Uang.Usai.Kampanye.untuk.Jokowi)
Itu hanya sekadar catatan kecil sebagaimana dilansir laman pkspiyungan.org untuk melihat perbedaan hasil quick count di Pilpres 2014 yang berbeda antara satu lembaga survei dengan lembaga survei yang lain. Tentu hasil paling valid dan sah adalah hasil real count KPU nanti, dan semua pihak harus menghormati apapun hasilnya.
Yang jelas, Hitung Cepat (Quick Count) IRC Lebih Akurat Ketimbang SMCR-LSI
- Litbang Kompas,
- Lingkaran Survei Indonesia (LSI)
- Indikator Politik Indonesia,
- Populi Center,
- CSIS,
- Radio Republik Indonesia (RRI)
- Saiful Mujani Research Center (SMRC)
- Puskaptis,
- Indonesia Research Center,
- Lembaga Survei Nasional,
- Jaringan Suara Indonesia.
Survei
Hasil Lengkap Hitung Cepat (Quick Count) Pilpres 2014 oleh 11 Lembaga Survei
Politik Magz -- Sebanyak 7 dari 11 lembaga survei yang melakukan hitung cepat (quick count) Pemilu Presiden 2014 menyebut pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai pemenang.
Sebaliknya, 4 lembaga survei lain mendapatkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa sebagai pemenang.
Ke-7 lembaga survei yang menyebutkan Jokowi menang:
Ke-4 lembaga survei yang mendapatkan hasil kemenangan bagi Prabowo-Hatta:
Berikut hasil lengkap kesebelas lembaga survei tersebut:
| No | Lembaga Survei | Prabowo- Hatta | Jokowi-JK | Sumber |
| 1 | Populi Center | 49,05 | 50,95 | Suara.com |
| 2 | CSIS | 48,1 | 51,9 | Liputan6.com |
| 3 | Litbang Kompas | 47,66 | 52,33 | Kompas.com |
| 4 | Indikator Politik Indonesia | 47,05 | 52,95 | Metrotvnews.com |
| 5 | Lingkaran Survei Indonesia | 46,43 | 53,37 | Konferensi pers |
| 6 | Radio Republik Indonesia | 47,32 | 52,68 | Detik.com |
| 7 | Saiful Mujani Research Center | 47,09 | 52,91 | Detik.com |
| 8 | Puskaptis | 52,05 | 47,95 | Viva.co.id |
| 9 | Indonesia Research Center | 51,11 | 48,89 | okezone.com |
| 10 | Lembaga Survei Nasional | 50,56 | 49,94 | Viva.co.id |
| 11 | Jaringan Suara Indonesia | 50,13 | 49,87 | Viva.co.id |
Opini, Survei
PASCA Pilpres 9 Juli 2014, terjadi Perang Hasil Hitung Cepat Lembaga Survei! Pemikiran dan perasaan para capres-cawapres dan pendukungnya, dipermainkan oleh hasil-hasil hitung Quick Count.
Wakil Ketua Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) Muhammad Qodari menilai perbedaan hasil hitung cepat (quick count) jumlah suara dalam Pemilihan Umum Presiden 2014 antara sejumlah lembaga survei perlu diinvestigasi secara metodologis.
"Perlu ada investigasi pada momen ini untuk dilihat secara metodologis dan secara data di setiap lembaga yang menyelenggarakan quick count kenapa datanya bisa muncul seperti itu (berbeda)," kata Qodari dalam diskusi di sebuah stasiun televisi di Jakarta, Rabu (9/7/2014).
Hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei seperti SMRC, LSI, Indikator, CSIS-Cyrus, Kompas dan RRI menempatkan pasangan Jokowi-JK unggul dengan rata-rata suara 52 persen dari Prabowo-Hatta dengan rata-rata 47 persen.
Namun, tiga lembaga survei lain yakni Puskaptis, JSI, dan LSN, justru menyatakan kemenangan berada di kubu Prabowo-Hatta.
"Ketika terjadi perbedaan seperti hari ini mau tidak mau harus dilakukan investigasi, harus dilihat metodologi, sampling, data populasinya, skemanya seperti apa. Karena bisa saja dia melakukan sampling yang benar tetapi data populasinya yang dia dapatkan salah ya 'get out'," ujar Qodari.
Qodari melanjutkan, perlu juga dilihat siapa relawan dari lembaga survei itu dan dari sisi pengumpulan datanya perlu diamati apakah terjadi penyimpangan atau misinterpretasi di lapangan, atau mengalami perubahan dari lapangan hingga ke pusat nantinya.
"Karena untuk melakukan quick count itu ada dua aspek yang penting, pertama adalah pewawancara atau volunteer yang ke lapangan. Yang kedua dari mereka dikirim lewat IT (teknologi). Kalau IT nya trouble itu kan bisa berubah juga angkanya. Terakhir dari pusat sendiri bagaimana, apakah data dari bawah itu memang disampaikan apa adanya atau ada yang diubah atau diganti misalnya. Jadi panjang sekali ya dari hulu ke hilir," kata Qodari seperti diberitakan bisnis.com.
Wakil Ketua Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) Muhammad Qodari menilai perbedaan hasil hitung cepat (quick count) jumlah suara dalam Pemilihan Umum Presiden 2014 antara sejumlah lembaga survei perlu diinvestigasi secara metodologis.
"Perlu ada investigasi pada momen ini untuk dilihat secara metodologis dan secara data di setiap lembaga yang menyelenggarakan quick count kenapa datanya bisa muncul seperti itu (berbeda)," kata Qodari dalam diskusi di sebuah stasiun televisi di Jakarta, Rabu (9/7/2014).
Namun, tiga lembaga survei lain yakni Puskaptis, JSI, dan LSN, justru menyatakan kemenangan berada di kubu Prabowo-Hatta.
"Ketika terjadi perbedaan seperti hari ini mau tidak mau harus dilakukan investigasi, harus dilihat metodologi, sampling, data populasinya, skemanya seperti apa. Karena bisa saja dia melakukan sampling yang benar tetapi data populasinya yang dia dapatkan salah ya 'get out'," ujar Qodari.
Qodari melanjutkan, perlu juga dilihat siapa relawan dari lembaga survei itu dan dari sisi pengumpulan datanya perlu diamati apakah terjadi penyimpangan atau misinterpretasi di lapangan, atau mengalami perubahan dari lapangan hingga ke pusat nantinya.
"Karena untuk melakukan quick count itu ada dua aspek yang penting, pertama adalah pewawancara atau volunteer yang ke lapangan. Yang kedua dari mereka dikirim lewat IT (teknologi). Kalau IT nya trouble itu kan bisa berubah juga angkanya. Terakhir dari pusat sendiri bagaimana, apakah data dari bawah itu memang disampaikan apa adanya atau ada yang diubah atau diganti misalnya. Jadi panjang sekali ya dari hulu ke hilir," kata Qodari seperti diberitakan bisnis.com.
Lembaga survei dengan hasil hitung cepatnya, terbukti hanya memusingkan para kandidat dan rakyat. Maka, selayaknya lembaga-lembaga survei politik itu DILARANG saja!
Opini, Survei
Lembaga Survei Bikin Pusing Rakyat! Kata para pengamat, lembaga survei itu sekarang menjadi kekuatan kelima setelah media. Fungsinya "menggiring opini", membangun opini publik. Jadinya "tidak ilmiah" lagi, apalagi kabarnya banyak (kebanyakan?) lembaga survei itu merupakan "pesanan", hasilnya disetting untuk memihak kubu politik tertentu.
Tidak heran, hasil hitung cepat (quick count) pun berbeda-beda. Setidaknya ada 5 lembaga survei yang menyatakan Jokowi-JK menang. Setidaknya 4 lembaga survei lain menyatakan kubu Prabowo-Hatta yang menang.
Parahnya, kedua kubu juga menjadikan hasil hitung cepat itu sebagai acuan. Kubu Jokowi sudah mendeklarasikan kemenangan. Kubu Prabowo juga demikian. Nah lho... kalo sama-sama menang, masak dua-duanya jadi presiden terpilih?
Yang dikhawatirkan, setelah KPU mengumumkan hasil resmi, terjadi protes, ribut! Tuduhan manipulasi dan kecurangan akan muncul. Ribet 'kan? Wajar, jika TNI kabarnya sudah menyiapkan "rencana darurat", mengantisipasi rusuh pasca Pilpres 2014 ini.
Dari komentar kedua kubu, tampaknya gak ada yang menenangkan. Dua-duanya panas! Ini potensi konflik. Ini bahaya. Kayaknya gak bisa terima kalau Jokowi atau Prabowo kalah. Yang ada dalam kamus kedua kubu adalah SIAP MENANG, TIDAK SIAP KALAH. Wah wah wah... ini bahaya!
Sebaiknya lembaga survei DILARANG saja kalo bikin pusing seperti ini. Apalagi banyak (kebanyakan?) lembaga survei itu bayaran. Bahkan ada yang mengatakan, survei itu "pelacuran akademis"! Wiiih... ngeri!
Bagaimana, jika Lembaga Survei Bikin Pusing Rakyat terus, kita desak agar lembaga survei dibubarkan dan DILARANG SAJA! Setuju......???
Maksudnya, yang dilarang itu Lembaga Survei Politik, bukan survei bisnis/marketing atau survei selain politik.
Tidak heran, hasil hitung cepat (quick count) pun berbeda-beda. Setidaknya ada 5 lembaga survei yang menyatakan Jokowi-JK menang. Setidaknya 4 lembaga survei lain menyatakan kubu Prabowo-Hatta yang menang.
Parahnya, kedua kubu juga menjadikan hasil hitung cepat itu sebagai acuan. Kubu Jokowi sudah mendeklarasikan kemenangan. Kubu Prabowo juga demikian. Nah lho... kalo sama-sama menang, masak dua-duanya jadi presiden terpilih?
Yang dikhawatirkan, setelah KPU mengumumkan hasil resmi, terjadi protes, ribut! Tuduhan manipulasi dan kecurangan akan muncul. Ribet 'kan? Wajar, jika TNI kabarnya sudah menyiapkan "rencana darurat", mengantisipasi rusuh pasca Pilpres 2014 ini.
Dari komentar kedua kubu, tampaknya gak ada yang menenangkan. Dua-duanya panas! Ini potensi konflik. Ini bahaya. Kayaknya gak bisa terima kalau Jokowi atau Prabowo kalah. Yang ada dalam kamus kedua kubu adalah SIAP MENANG, TIDAK SIAP KALAH. Wah wah wah... ini bahaya!
Sebaiknya lembaga survei DILARANG saja kalo bikin pusing seperti ini. Apalagi banyak (kebanyakan?) lembaga survei itu bayaran. Bahkan ada yang mengatakan, survei itu "pelacuran akademis"! Wiiih... ngeri!
Bagaimana, jika Lembaga Survei Bikin Pusing Rakyat terus, kita desak agar lembaga survei dibubarkan dan DILARANG SAJA! Setuju......???
Maksudnya, yang dilarang itu Lembaga Survei Politik, bukan survei bisnis/marketing atau survei selain politik.
News, Survei
Exit Poll Pilpres 2014 LSI: Jokowi-JK Unggul 3% atas Prabowo-Hatta
Top 5 Popular of The Week
-
Cara Membuat File PDF Anti Copy Paste Teks dengan DoPDF File Portable Document Format ( Pdf ) jika tidak dikunci, masih bisa dicopy paste ...
-
Samsung S7262 Galaxy Star Pro Duos - Harga dan Info Produk. Kelebihan dan Kekurangan Samsung Galaxy Star Pro duos S7262 Smartphone Samsung G...
-
TIPS & Trik Menghemat Kuota Internet di HP Android / SmatPhone Agar Tidak Cepat Habis. Paket Internet Unlimited sebenarnya tidak benar-...
-
CB Magazine -- Namanya Maya Septha Setiono. Lahir di Jakarta, 12 September 1986. Aktris Indonesia ini pertama kali dikenal sebagai model ikl...
-
CB Magazine -- Meme Nikita Willy, Nikita Mirzani, dan Nikita Lengserin beredar di Media Sosial. Meme bernuansa politis itu seakan menghangat...
-
CB Magazine -- Berikut ini Daftar Tulisan Arab Salam (Assalamu'alaikum), Basmalah (Bismillahir rohmaanir rohim), Hamdalah (Alhamdulillah...
-
CB Magazine -- Hashtag atau tagar #haturnuhun menjadi trending topic di Twitter, Jumat (24/4/2015), untuk "Bandung Trends". Kata ...
-
Selain Jadi "TOGUA", Logo Baru JOGJA Seharga Rp 1,5 Miliar Dinilai Kebablasan CB Magazine -- Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (...
-
KOMPUTER , laptop, netbook, SmartPhone, atau HP Android Anda lambat alias lemot? Ini salah satu cara mengatasi atasu solusinya, yaitu dengan...
-
Koleksi Gambar Keren & Unik Kartu Ucapan Selamat Lebaran atau Selamat Idul Fitri 1436 H / 2015 M. CB Magazine -- Desain Kartu Ucapan Sel...






